Gangguan Makan Berkurang Paska Melahirkan

1517386045293-26.jpgGangguan Makan Berkurang Paska Melahirkan

PROBLEM atau masalah gangguan makan adalah sejenis kelainan yang rawan dialami  kalangan wanita dan remaja putri. Masalah ini biasanya muncul ketika memasuki masa pubertas, di mana mereka menjadi sangat concern atas pertambahan berat badan demi menjaga penampilan supaya langsing dan menarik.  Pada umumnya, para wanita terobsesi bertubuh indah dan ideal sebagaimana digambarkan dalam majalah, televisi atau film. Sikap negatif dan diskriminasi masyarakat terhadap orang-orang gemuk, mendorong mereka melangsingkan tubuhnya, agar tinggi dan lebar tubuhnya menjadi tampak berimbang.

Adanya kesalahan persepsi mengenai berat dan bentuk tubuh tersebut menyebabkan banyak orang melakukan usaha menurunkan atau mempertahankan berat badannya, meski dengan cara yang salah. Tak jarang di antara mereka akhirnya menderita gangguan makan seperti bulimia atau anoreksia. Pada beberapa kasus, penderita gangguan makan juga berkaitan dengan masalah depresi, kecemasan dan penyalahgunaan alkohol.

Penderita gangguan makan biasanya jarang sampai dirawat di rumah sakit, kecuali keadaannya sudah mengarah pada komplikasi parah. Untuk mengatasinya diperlukan kelompok terapis dari berbagai keahlian, yang dapat membantu pasien dalam masalah medis, psikologis, dan gizi.

Menurut hasil sebuah riset, gangguan makan juga mungkin berkurang setelah para wanita menikah dan memiliki anak. Peneliti Norwegia seperti dilaporkan Reuters Health, Rabu (16/4)  mengindikasikan bahwa para wanita yang sudah menjadi ibu ternyata relatif dapat sedikit terbebas dari masalah gangguan makan dibandingkan dengan rekan mereka yang tak mempunyai anak.

Kebanyakan para ibu, kata peneliti, lepas dari gangguan itu  karena mereka berhenti mengonsumsi alkohol dan tidak lagi berperilaku impulsif.

Namun begitu, menurut peneliti Tilman von Soest dari Norwegian Social Research di Oslo dan Dr. Lars Wichstrom dari Norwegian University of Science and Technology di Trondheim, temuan itu mungkin tidak berlaku bagi wanita yang tinggal di negara dengan sistem yang kurang ramah untuk mendukung orang-tua yang memiliki anak kecil.

“Di lingkungan yang kurang mendukung, saya menduga banyak orang tua terbuka pada lebih banyak tekanan, seperti, kondisi psikologis dan keuangan,” kata von Soest.  “Kondisi terbuka terhadap tekanan semacam itu mungkin akan menghilangkan pengaruh positif dari perubahan gaya hidup ketika menjadi ibu.”

Von Soest dan Wichstrom melibatkan 1.206 perempuan yang mulanya tak memiliki anak selama enam tahun guna menentukan apakah menjadi ibu memiliki pengaruh pada pola makan. Perempuan memang memperlihatkan lebih sedikit gangguan makan setelah mempunyai anak, yang menurut para peneliti disebabkan oleh pengurangan prilaku yang menurutkan perasaan dan penurunan penggunaan alkohol. Namun, meskipun perempuan yang tak mempunyai anak memperlihatkan kepuasan yang meningkat dengan penampilan mereka, perempuan yang menjadi ibu tidak memperlihatkan gejala itu. Berdasarkan temuan tersebut, von Soest mengatakan mungkin saja bahwa pengurangan penggunaan alkohol dan melakukan tindakan lain untuk menciptakan gaya hidup yang lebih stabil dapat membantu orang untuk mengtasi gangguan makan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s